Pemandangan Kampung Skouw Mabo

Kampung Skouw Mabo

Muara Tami, Kota Jayapura, Papua

Melayani masyarakat dengan profesional, transparan, dan amanah menuju kampung mandiri yang sejahtera.

Sejarah Kampung

Mengenal lebih dekat Skouw Mabo melalui para pemimpin adat dan kisah sejarahnya.

Ishak Samuel Mallo

Ishak Samuel Mallo

Kepala Suku Mallo

Edward Richard Awee

Edward Richard Awee

Kepala Suku Awee dan Kemo

Esau Tampoto

Esau Tampoto

Kepala Suku Tampoto dan Membilong

Amus Timotius Pallora

Amus Timotius Pallora

Kepala Suku Pallora

Narasi Sejarah Skouw Mabo

Kampung Skouw Mabo merupakan salah satu kampung adat di pesisir timur Jayapura yang menyimpan sejarah panjang, perjuangan, serta persekutuan yang erat antara empat suku utama, yaitu suku Mallo, suku Awee, suku Tampoto, dan suku Pallora. Keberadaan kampung Skouw Mabo bukan sekadar cerita garis keturunan, melainkan simbol kearifan lokal dalam menjaga kedamaian, keselamatan, dan keharmonisan hidup bersama.

Perjalanan Leluhur Kampung Skouw Mabo
Sejarah berdirinya Kampung Skou...
Kampung Skouw Mabo merupakan salah satu kampung adat di pesisir timur Jayapura yang menyimpan sejarah panjang, perjuangan, serta persekutuan yang erat antara empat suku utama, yaitu suku Mallo, suku Awee, suku Tampoto, dan suku Pallora. Keberadaan kampung Skouw Mabo bukan sekadar cerita garis keturunan, melainkan simbol kearifan lokal dalam menjaga kedamaian, keselamatan, dan keharmonisan hidup bersama.

Perjalanan Leluhur Kampung Skouw Mabo
Sejarah berdirinya Kampung Skouw Mabo diawali dari perantauan suku Mallo yang berasal dari daerah Genyem. Dalam tradisi lisan, dua bersaudara dari suku Mallo memiliki peran hidup yang berbeda: sang kakak merupakan seorang pemburu yang kerap menjelajah hutan hingga bertahun-tahun, sedangkan sang adik bertugas mengurus kebun, menokok sagu, dan menjaga keluarga. Sang kakak memiliki istri dan sang adik tidak. Sang kakak terlalu lama meninggalkan rumah, istrinya yang merasa tidak terpenuhi nafkah batinnya akhirnya memilih untuk tinggal bersama sang adik di kebun. Ketika sang kakak kembali dan mencari istrinya, sang Ibu berlari di malam hari untuk memberi tahu adiknya. Sang kakak mengejar sang adik bersama istrinya yang keluar dari kampung dengan membawa sebuah tifa dan burung cendrawasih. Pengejaran dengan kekuatan supranatural terjadi hingga mencapai gunung Mer di depan Enggros. Dari puncak gunung tersebut, sang kakak melihat kepulan asap di Pantai Tangwato dan menemukan pemukiman suku Batupa dan meminta izin untuk menetap.
Dalam cerita sejarah lainnya, suka Awee yang berasal dari Kayu Pulo harus meninggalkan tanah kelahirannya akibat bencana tsunami. Suku Awee mengungsi di kawasan Holtekamp dan menjalankan kehidupan adatnya. Suku Awee kerap menggelar tarian adat yang diiringi dengan tabuhan tifa. Namun, tarian dan tabuhan tifa ini memicu perselisihan dengan masyarakat Kayu Batu. Getaran suara membuat kerajinan tanah lihat, seperti centeng dan tempayang milik Kayu Batu menjadi retak hingga pecah saat dikeringkan. Hal ini memicu perang gaib di antara suku Awee dan Kayu Batu. Kayu Batu mengirimkan penyu gaib yang terbuat dari pelepah kelapa ke pantai tempat tinggal suku Awee. Beruntung, seorang nenek moyang melarang suku Awee memakannya karena itu adalah jebakan sihir yang mematikan. Sebagai balasan, suku Awee memotong ujung daun kelapa dan mengubahnya menjadi ikan layang di laut. Ketika warga Kayu Batu menangkap dan memakan ikan tersebut, banyak korban yang gugur di pihak Kayu Batu.
Perang gaib yang terjadi antara suku Awee dam Kayu Batu membuat populasi suku Awee menyusut. Suku Awee menyelamatkan diri dari kejaran Kayu Batu dengan cara bermigrasi menyusuri pantai ke arah Timur. Di sekitar pantai kampung Teripah, suku Awee bertemu dengan dua anak kecil dari suku Mallo yang sedang bermain dan perjumpaan ini menyatukan suku Awee dan suku Mallo. Dalam perjalanan mencari tempat berlindung selanjutnya, mereka juga bertemu dengan suku Tampoto yang merupakan pengungsi bencana tsunami dari Kasuar serta suku Pallora yang memiliki keterikatan wilayah di pesisir Timur. Suasana zaman perang yang dipenuhi rasa takut, suku-suku ini sepakat bahwa siapa yang menemukan tempat aman terlebih dahulu harus menyalakan api sebagai petunjuk bagi yang lain.

Penemuan “Air Hidup”
Suku Mallo meminta bantuan kepada seorang pemuda yang tampan dan gagah untuk memimpin pencarian wilayah permukiman baru ke arah Timur. Dalam situasi perang, pemuda tersebut berkelana hingga berbulan-bulan menyusuri pesisir dan hutan, sampai akhirnya ia menemukan sebuah sungai di wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Skpuw Mabo. Setelah mengamati alirannya, pemuda itu menyadari bahwa sungai tersebut merupakan “air hidup” yang mampu memberikan kehidupan dan keselamatan. Bagian lekukan atau perut sungai berada di sebelah Barat dan disepakatilah untuk mendirikan kampung baru di sebelah Timur sungai tersebut.

Tatanan Adat dan Kepemimpinan Ondoafi
Lokasi untuk mendirikan kampung telah ditemukan, keempat suku berkumpul dalam musyawarah adat untuk menentukan struktur kepemimpinan (Ondoafi). Suku Awee menyerahkan posisi Ondoafi kepada suku Mallo. Suku Awee menyerahkan posisi tersebut karena suku Awee masih memiliki rekam jejak konflik ataupun perselisihan dengan Kayu Batu; jika suku Awee yang diangkat menjadi Ondoafi dan terdengar oleh musuk, dikhawatirkan perang akan kembali melanda kampung baru tersebut yaitu Kampung Skouw Mabo. Suku Mallo menyetujui tawaran ini demi keselamatan bersama dan diangkat menjadi Ondoafi sebagai pemimpin utama di Kampung Skouw Mabo. Suku Awee mengambil peran sebagai pendamping dan pelindung yang menemani Ondoafi dari belakang, sementara suku Tampoto dan suku Pallora memegang peran penting sebagai pilar kekuatan adat,penjaga hak ulayat dan pelindung tatanan wilayah.
"Kampung Skouw Mabo berdiri di atas fondasi kebijaksanaan, perlindungan bersama, dan pembagian peran adat yang harmonis antara Suku Mallo, Suku Awee, Suku Tampoto, dan Suku Pallora."
Hingga kini, persekutuan harmonis antara keempat suku ini terus menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat di Kampung Skouw Mabo. Penghormatan terhadap sejarah dan pembagian peran adat ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai wujud kearifan lokal yang memelihara persatuan dan kedamaian.

Warisan Budaya

Rumah Adat Tang-Va
Rumah Adat Tang-Va
Rumah Adat Tang-Va
Rumah Adat Tang-Va

Rumah Adat Tang-Va

Rumah adat Tang-Va merupakan rumah adat skouw di kota Jayapura, Papua yang berfungsi sebagai benteng pertahanan, tempat persinggahan, sekaligus ruang pembersihan diri bagi kaum laki-laki. Bangunan sakral inilah para lelaki merencanakan, mempersiapkan, dan mendiskusikan berbagai strategi penting sebe... Rumah adat Tang-Va merupakan rumah adat skouw di kota Jayapura, Papua yang berfungsi sebagai benteng pertahanan, tempat persinggahan, sekaligus ruang pembersihan diri bagi kaum laki-laki. Bangunan sakral inilah para lelaki merencanakan, mempersiapkan, dan mendiskusikan berbagai strategi penting sebelum turun ke medan perang. Tingginya tingkat kerahasiaan serta nilai sakral tempat ini membuat istri dan anak-anak dilarang keras untuk mengetahui isinya dan memasukinya.

Tatanan adat menetapkan aturan yang sangat ketat mengenai siapa saja yang diizinkan menginjakkan kaki di dalam rumah adat. Kaum perempuan mutlak tidak diperbolehkan masuk karena fasilitas dan peralatan yang tersimpan di dalamnya merupakan rahasia kaum lelaki yang harus dijaga. Begitu pula dengan anak-anak, mereka tidak diizinkan masuk sebelum menempuh pendidikan di sekolah adat dan resmi melalui proses pelantikan. Jika ada anak-anak yang melanggar ketentuan ini, orang tuanya diwajibkan menjalani ritual dengan menangkap babi untuk digantung; apabila sanksi tersebut diabaikan, anak yang melanggar diyakini akan jatuh sakit.

Aturan ini juga berlaku bagi perempuan; jika ada perempuan yang masuk ke dalam rumah, baik secara sengaja maupun tidak sengaja akan dikenakan sanksi adat untuk menjaga kerahasiaan para lelaki, seperti menangkap babi yang kemudian diletakkan di depan rumah adat untuk dimasak dan dimakan bareng bersama masyarakat. Namun, di balik aturan tersebut, terdapat pengecualian sakral yang menjunjung tinggi wibawa seorang perempuan, yakni kehadiran ibu dari suku Tampoto. Ibu dari suku Tampoto memegang hak istimewa untuk masuk ke dalam rumah adat Tang-Va dalam situasi tertentu, khususnya apabila terjadi perkelahian atau pertikaian antar laki-laki di dalam rumah adat hingga menumpahkan darah. Ibu dari suku Tampoto masuk ke dalam rumah adat dengan tujuan untuk mengamankan keadaan. Kehadiran ibu suku Tampoto membawa otoritas perdamaian yang mutlak: ketika ia sudah melangkah naik ke rumah adat, seluruh suasana seketika hening. Siapa pun yang berani membuat keributan, akan langsung dibunuh di tempat.

Melalui aturan yang tegas, sakral, dan penuh wibawa ini, Rumah Adat tidak hanya berfungsi sebagai ruang strategi pertahanan di masa lalu, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan, disiplin, dan penjaga kehormatan masyarakat adat turun-temurun.

Visi & Misi Kampung

⭐

Visi

"Terwujudnya Kampung Skouw Mabo yang Maju, Mandiri, Sejahtera, dan Berbudaya dengan Kearifan Lokal Papua."

Misi

  • 1 Meningkatkan kualitas SDM yang beriman dan berdaya saing
  • 2 Membangun infrastruktur kampung yang merata dan berkualitas
  • 3 Mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis UMKM
  • 4 Melestarikan budaya dan kearifan lokal suku Moy, Hatam, Arfak, Tobati, dan Sentani
Kepala Kampung

Hanok R. Mallo, S.E.

Kepala Skouw Mabo

Periode 2023 – 2028

Kata Sambutan Kepala Kampung

Shalom, Salam Sejahtera.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga website resmi Kampung Skouw Mabo ini dapat hadir sebagai salah satu wujud komitmen kami dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Website ini merupakan jendela informasi bagi seluruh warga Kampung Skouw Mabo dan masyarakat luas untuk mengetahui perkembangan pembangunan, potensi kampung, serta berbagai program yang sedang dan akan kami jalankan demi kemajuan bersama.

Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan transparansi pengelolaan pemerintahan kampung, mengoptimalkan potensi lokal, dan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh warga. Mari bersama-sama kita bangun Kampung Skouw Mabo menjadi kampung yang maju, mandiri, dan sejahtera, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai adat dan budayanya.

Peta Kampung Skouw Mabo

Temukan lokasi Kampung Skouw Mabo di peta untuk memudahkan kunjungan dan akses menuju kampung kami.

Peta Kondisi Fasilitas Umum Kampung Skouw Mabo

Peta Kondisi Fasilitas Umum Kampung Skow Mabo

Struktur Pemerintahan Kantor

Struktur Pemerintahan

Administrasi Penduduk

777

Jumlah Penduduk

jiwa terdaftar

242

Kepala Keluarga

KK aktif

385

Penduduk Laki-laki

jiwa

392

Penduduk Perempuan

jiwa

APB Kampung Skouw Mabo

Anggaran Pendapatan, Belanja & Pembiayaan Kampung Skouw Mabo Tahun Anggaran 2026

Pendapatan

Rp 8.253Jt

Dana Des Rp 762Jt
Bagi Hasil dan Retribusi Daerah Kabupaten/Kota Rp 1.843Jt
Alokasi Dana Desa Rp 5.647Jt
Bunga Bank Rp 0Jt

Belanja

Rp 7.876Jt

Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Rp 2.612Jt
Pelaksanaan Pembangunan Desa Rp 3.276Jt
Pembinaan Kemasyarakatan Rp 1.475Jt
Pemberdayaan Masyarakat Rp 401Jt
Penanggulangan Bencana, Darurat, dan Mendesak Desa Rp 112Jt

Pembiayaan

Rp 378Jt

Penyertaan Modal Desa Rp 378Jt

Distribusi Belanja (Juta Rupiah)

Portal Berita Kampung

Baca berita dan informasi terkini Kampung Skouw Mabo di portal berita resmi kami.

Kunjungi Portal Berita

Galeri Kampung

Penyaluran Bantuan Pangan

Penyaluran Bantuan Pangan

Pembangunan Sarana Olahraga: Lapangan Olahraga

Pembangunan Sarana Olahraga: Lapangan Olahraga

Kegiatan Turkam Bpk. Walikota dan Bpk. Wakil Walikota

Kegiatan Turkam Bpk. Walikota dan Bpk. Wakil Walikota

Kegiatan Training Jurnalistik

Kegiatan Training Jurnalistik

Kegiatan Perehapan Rumah Adat Tangva

Kegiatan Perehapan Rumah Adat Tangva

Kegiatan Pengesahan Dokumen APBK

Kegiatan Pengesahan Dokumen APBK

Kegiatan Bimtek Peraturan Kampung

Kegiatan Bimtek Peraturan Kampung

Kegiatan Penyusunan Master Plan

Kegiatan Penyusunan Master Plan

Kegiatan Kerajinan/ Ekraf Kampung Skouw Mabo

Kegiatan Kerajinan/ Ekraf Kampung Skouw Mabo

Peninjauan Lokasi Master Plan

Peninjauan Lokasi Master Plan

Kegiatan Pembaharuan Data IDM dan SDgS Kampung Skouw Mabo

Kegiatan Pembaharuan Data IDM dan SDgS Kampung Skouw Mabo

Kegiatan Pembuatan dan Pemasangan Rempong Ikan

Kegiatan Pembuatan dan Pemasangan Rempong Ikan

Kegiatan Study Tiru/ Referensi ke Kab. Kudus

Kegiatan Study Tiru/ Referensi ke Kab. Kudus

Dokumentasi Sosialisasi Program Kerja Tim KKN-PPM UGM 2026

Dokumentasi Sosialisasi Program Kerja Tim KKN-PPM UGM 2026

Dokumentasi Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Skouw Berdaya, Digital Berdaya untuk Indonesia

Dokumentasi Sosialisasi Digitalisasi UMKM: Skouw Berdaya, Digital Berdaya untuk Indonesia

Dokumentasi Perpisahan dan Pemberian Souvenir oleh Kepala Kampung Skouw Mabo

Dokumentasi Perpisahan dan Pemberian Souvenir oleh Kepala Kampung Skouw Mabo

Pemaparan Hasil Program Kerja KKN-PPM UGM 2026

Pemaparan Hasil Program Kerja KKN-PPM UGM 2026

Jam Kerja Kantor Kampung

Senin – Jumat

09.00 – 15.00 WIT

Sabtu & Minggu

Libur

Hari libur nasional menyesuaikan kalender pemerintah